Cerbung 1-5 SUAMI KU JADUL

 *CERITA  BERSAMBUNG*


🌹Kupersembahkan khusus utk ibu2 Kom.PDK ikuti ya?🌹


*Episode 1*

Namamya kuno, Parlindungan, biasa dipanggil Parlin. Tak punya akun FB, apalagi IG. Nomor kontak di HP-nya hanya lima belas, semuanya keluarga. Itulah suamiku. Kakakku menyebutnya suami jadul yang hidup di tahun delapan puluhan. 


"Enak juga punya suami jadul ya, orang sibuk dengan HP-nya masing-masing, dia justru cabut rumput," kata kakakku seraya menunjuk suamiku yang lagi cabut rumput. Perkataan kakakku itu justru seperti hinaan untukku. 


Saat itu kami seperti biasa berkumpul, semacam arisan tak resmi, kami satu keluarga selalu berkumpul setiap bulan di rumah orang tua. Ya, memang begitu, ketika semua orang sibuk dengan hp-nya, suamiku justru membersihkan halaman rumah orang tua. Kadang aku malu juga, entah apa kelebihan suamiku ini, sehingga ayah dulu ngotot menjodohkan kami.


"Maklumi aja, orang kampung memang keahliannya cabut rumput," kata kakak iparku seraya tertawa. 


Kami keluarga besar berjumlah enam orang, aku nomor tiga, akan tetapi akulah yang terakhir menikah. Ketika adik paling bungsu sudah punya anak, aku baru dapat jodoh, itupun dijodohkan ayah. Orang kampung, pengangguran pula. Aku bilang pengangguran karena memang dia tak kerja, seharian hanya di rumah. Akan tetapi dia rutin kasih uang belanja. Entah dia dapat dari mana aku tak tahu. Kami baru tiga bulan menikah. Aku bahkan belum tahu dia kerja apa? 


Penampilannya juga memang kuno, masih setia dengan rambut gobel, masih setia dengan celana keeper. Di rumah seharian justru hanya pakai sarung. 


"Gaul dikit napa, Bang?" kataku pada suami, ketika dia lagi sibuk membersihkan halaman. Kudatangi dia, karena tak tahan cibiran saudaraku sendiri. 


"Gak percaya diri abang, Dek, cerita mereka urusan kantor terus, aku hanya tau rumput," jawab suami seraya terus mencabuti rumput. 


"Udah kalau gitu aku ikut cabuti rumput," jawabku seraya duduk dan mulai kerja. 


Perkenalan kami dulu sangat singkat sebelum menikah, hanya kenalan sepuluh hari baru akad nikah.


"Kau percaya pada Ayah, Nia?" begitu kata Ayah sewaktu mengenalkan kami. 


"Tentu saja percaya, Ayah," jawabku. 


"Menikahlah dengannya," kata Ayah lagi, seraya menunjuk pria jadul itu. 


Saat itu aku hanya diberi waktu berpikir satu hari, kuterima dengan pertimbangan umur yang sudah kepala tiga, karena aku juga percaya pada Ayah, tak mungkin dia menjerumuskan putrinya sendiri. Kami menikah sepuluh hari kemudian. Aku bahkan belum pernah dibawa ke rumah mertua. Kenal mertua hanya ketika resepsi saja. Aneh kan? akan tetapi itulah hidupku. 


Kami kumpul ketika makan siang, enam anak dan enam menantu semua berkumpul di meja makan. Ayah mulai bicara. 


"Ayah berencana mau umroh, tapi uangnya tak ada, bersediakah kalian membantu Ayah?" tanya Ayah. 


Semua kami terdiam dan saling berpandangan, belum pernah Ayah minta bantuan begini, selama ini beliaulah yang membantu kami, hampir semua anaknya diberi modal untuk usaha sendiri. 


"Ayah tahu usaha lagi sepi, tapi kubantu juga satu juta," kata abangku yang tertua. 


Satu juta? dia yang paling lumayan hidupnya hanya bantu satu juta, bagaimana yang lain. 


"Aku juga satu juta," kata kakak yang nomor dua. Dan disambung saudara yang lain hanya bisa bantu lima ratus ribu. 


Tinggal aku, kulihat suamiku yang seperti biasanya hanya diam saja. 


"Batalkan saja, Ayah, hanya dapat empat juta, biaya umroh dah berapa?" kata abangku yang tertua. 


"Sisanya aku yang talangi," kata suami tiba-tiba. 


Semua mata mengarah ke suami, aku juga ikut melihat suamiku itu, bagaimana dia bisa bicara begitu, sedangkan rumah kami saja masih ngontrak, beli HP saja dia tak mampu? 


"Bang?" kataku pada suami lebih tepatnya bertanya, ingin melihat kesungguhan. 


"Iya, aku bayar semua," kata suami, nada suaranya kedengeran yakin sekali. 


Ayah menutup pembicaraan dengan mengucapkan "Alhamdulillah" lalu beliau masuk kee kamarnya. 


"Aku yakin Ayah prank ini," kata adik bungsuku. 


"Kok kau bilang gitu?"


"Dia hanya menguji kita, aku yakin sekali, makanya si Parlin berani talangi semua, pasti ayah sudah bicara duluan dengan Parlin, Ayah kan akrab sama dia," kata abangku yang tertua. 


"Beli bedakmu saja dia gak mampu, mau berangkatkan Ayah umroh lagi?" sambung kakakku yang nomor dua. 


Kulirik suami, dia hanya diam seperti biasa. Ini suami macam apa, orang membicarakan dia di dekatnya sendiri dia diam. 


"Andaipun benar, aku yakin itu uang ayah juga, pengangguran gitu dari mana dapat uang banyak?" sambung Adikku. 


Segera kutarik tangan suami dari orang ramai, kuajak dia bicara berdua. Aku tak habis pikir, HP-nya saja masih HP Nokia jadul. 


"Bang, apa benar?" tanyaku setelah kami berduaan. 


"Iya, Dek, benar."


"Bang, kalau memang ada uang abang segitu, lebih baik beli motor baru, HP baru aja," kataku lagi. 


"Lo, kok adek gitu?  itu orang tuamu, Dek, mungkin ini keinginan terakhirnya."


"Baik, dari mana Abang ambil uang segitu?"


"Itu hanya satu sapi, Dek," 


"Satu sapi?"


"Iya, Dek, hanya seharga satu sapi."



*to be continued*p




*CERITA BERSAMBUNG*

      *SUAMIKU JADUL*


🌹Part 2🌹


"Emang Abang mau jual sapi siapa?" tanyaku seraya menatap matanya penuh selidik. 


"Ya, sapi kita, Dek?"


"Memang Abang punya sapi?"


"Iya, Dek, hanya usaha sampingan."


Sampingan? Wah, usaha sampingan saja sudah bisa memberangkatkan orang tua ke Mekkah. Berarti usaha pokoknya lebih lagi. Apakah suamiku juragan sapi? Ayah dulu bilang, Bang Parlindungan itu petani, waktu itu aku tak tanya lagi petani apa, yang kupikirkan saat itu aku menikah dengan pilihan orang tua, karena sudah lelah disebut perawan tua. Ditambah lagi wajah suamiku ini teduh, mirip Rano Karno jaman dahulu. Bila kulihat suami, aku selalu teringat sinetron kesukaanku waktu kecil dulu. Si Doel Anak Sekolahan. 


"Kenapa Abang gak pernah bilang punya sapi?"


"Lo, adek kan gak pernah tanya."


"Hmmm, masa sama istri sembunyikan usaha."


"Bukan maksud mau sembunyikan, Dek, memang gitu, gak usah pamer ya, Dek, gak usah bilang-bilang," kata suami lagi. 


Suami benar-benar memberikan uang dua puluh dua juta ke orang tuaku. Aku melongo melihat uang tersebut dengan mudahnya dia berikan. Sedangkan abangku saja hanya beri satu juta. 


"Aku tetap yakin kita dikerjai Ayah," kata kakakku yang nomor dua ketika kami kembali berkumpul. 


"Iya, aku juga yakin begitu, pikir pakai logika, mana mungkin orang seperti itu bisa berikan uang dua puluh dua juta sama mertuanya? Gak logis," sambung adikku yang paling bungsu seraya mulutnya menunjuk ke Bang Parlin yang seperti biasa di halaman. 


"Dikerjai bagaimana?" tanyaku. 


"Gini, Nia, kan si Parlin itu pilihan Ayah, Ayah mau tunjukkan pada kami bahwa pilihannya benar, uang itu ayah berikan ke Parlin dulu, baru pura-pura Parlin yang kasih," kata abang yang nomor dua. 


Ingin rasanya aku bilang kalau suamiku juragan sapi, akan tetapi teringat perkataan suami supaya hidup slow saja, gak usah bilang-bilang. Tak tahan mendengar mereka terus bicarakan suami, kutemui suami di halaman. Dia mencabut rumput seperti biasa. 


"Kenapa sih Abang suka cabut rumput?" tanyaku seraya ikut gabung dengannya. 


"Kebiasaan, Dek, aku sudah ambil rumput sejak masih SD, bila melihat rumput begini, rasanya ingin kusabit atau kucabut," jawab suami. 


Ya, Tuhan, suami macam apa ini, bila suami orang hobby main game, hobby main catur, dia justru hobby cabut rumput. 


"Berapa sapi Abang? Kenapa gak pernah Abang ajak aku lihatnya," tanyaku lagi. 


"Cuma sedikit, Dek, sekitar dua ratus lima belas, itu kebanyakan sapi biasa yang harganya balasan juta," jawab suami. 


Dua ratus lima belas? dan dia bilang itu sedikit, aku mulai berhitung, dua ratus kali sepuluh juta saja sudah dua milyar, dan itu baru usaha sampingan? Aku istri milyarder? 


"Ajak aku ke sana, Bang," kataku lagi. 


"Gak sanggup kau itu, Dek, di sana gak ada sinyal, memang sanggup Adek gak pegang HP?" jawab suami. 


Gak ada sinyal? Ah, tak terbayangkan hidup di tempat yang gak ada sinyal, setelah belasan tahun ketergantungan HP. 


"Terus kenapa kita ngontrak rumah, itu sapi jual sepuluh dulu napa? Biar kita beli rumah?" kataku seraya melirik suami. 


"Kita gak ngontrak, Dek,"


"Gak ngontrak kata Abang, itu rumah siapa? Itukan rumah kontrakan?"


"Apa pernah Adek bayar kontrakan? Atau apa pernah lihat Abang bayar kontrakan?" 


Wah, aku baru ingat, memang tak pernah, ketika kami baru menikah, aku langsung diboyong ke rumah itu. Suami memang tak bilang itu rumah kontrakan, secara kan baru nikah, pasti tinggalnya di rumah kontrakan, rumah kami juga rumah petak, berdampingan dengan lima pintu lainnya. 


"Jadi ...?"


"Ya, itu rumah kita, Dek, enam pintu itu, selama ini dikontakkan, karena aku sudah menikah ya, kita tempati satu."


Sudah menikah tiga bulan, baru kali ini aku tahu tentang suami, ternyata dia banyak menyimpan rahasia. 


"Kenapa sih sama istri sendiri rahasia segala?"


"Gak ada rahasia, Dek, orang adek gak pernah tanya," 


"Tapi tetangga bilang rumah itu rumah kontrakan, mana mungkin dia gak tahu pemilik rumah yang dia kontrak?" tanyaku lagi bergaya bak penyidik. 


"Memang dia gak tau, Dek, karena gak pernah kubilang, Abang gak pernah datang minta uang kontrakan, semua itu diurus Bou,"


"Siapa Bou?" 


"Saudara Ayah, itu yang waktu itu kit ke sana."


Oh, aku memang pernah dibawa ke tempat bounya, katanya itu satu-satunya saudara dia di kota ini. 


Ternyata pilihan Ayah benar, suamiku seorang milyarder yang gak kenal HP andorid. Ah, ingin juga rasanya aku pamer, ingin kubungkam mulut abang dan ipar yang terus merendahkan suami. 


Suatu hari Abangku yang sulung datang ke rumah. Waktu dia datang, suami lagi di teras membuat kandang ayam dari bambu. 


"Parlin, ada rumah bagus di sana, rumah subsidi, DP-nya hanya sepuluh juta, bulanannya satu jutaan, kau jual sawah kalian di kampung sana dulu, daripada kalian ngontrak terus," kata abangku. 


"Kami gak ngontrak," aku keceplosan. 


"Jadi kalian tinggal gratis, dasar mental gratisan," kata abangku. 


Suami melirikku, lirikannya tajam, aku tahu maksudnya. 


"Gak berani kami kredit rumah, Bang," jawab suami. 


"Harus diberanikan, kami dulu juga begitu, aku beranikah diri, kerja yang lebih giat, alhamdulillah, akhirnya kami bisa kredit rumah, lima tahun lagi sudah lunas," kata Abangku lagi. 


Aku tahu, usaha sampingan Abangku ini memang broker rumah, dia pasti menawarkan pada kami karena tergiur bonusnya. 


"Tidak, Bang, terima kasih," kata suami. 


"Itulah pikiran yang gak bisa maju itu, kalau gak dicoba mana tau kita sanggup atau gak sanggup, pakai ini sikit," kata abangku seraya menunjuk keningnya. 


Andaikan abangku tahu suamiku seorang milyarder? Dia mungkin akan malu, akan tetapi entah kenapa suamiku ini, tak adakah keinginannya untuk sedikit pamer, biar tak direndahkan orang? 


Akhirnya abangku pulang dengan kecewa, jawaban suami tetap tak berani. Setelah dia pulang kupasang muka judes pada suami. 


"Abang kenapa sih, diam saja begitu, bilang aja jujur napa, biar kita gak direndahkan terus, aku capek, Bang," kataku kemudian. 


"Sabar, Dek, gak ada untungnya pamer," kata suami. 


"Ada, Bang, sama orang sombong kita harus sombong juga, baru kridit rumah sudah sok kaya," kataku makin sewot. 


"Udah, Deket, udah, itu abangmu, lo."


"Gak mau, Bang," kataku seraya masuk kamar. 


Entahlah dengan suamiku ini, sudahlah pendiam, sabarnya keterlaluan. Ah, aku harus poles suamiku, cukup sudah kami terus direndahkan. Yang pertama kulakukan akan kuubah penampilannya. 


"Bang, Pinjam duit," kataku kemudian ketika suami menyusul ke kamar. 


"Pinjam?" 


"Iya, Bang,"


"Ada-ada aja kau, Dek, masa sama suami pinjam duit?" 


"Ah, percuma punya suami juragan sapi?" kataku seraya berpaling. 


"Dek, jangan bilang gitu napa, Abang bukan juragan, hanya peternak sapi, kebetulan sekarang sapinya agak banyak, jadi orang yang kerjakan semua, Abang mau hidup tenang, ingin menikmati hidup bersama istri yang cantik." kata suami. 


"Istri cantik butuh belanja, Bang di mana-mana yang namanya wanita hobby belanja," kataku lagi. 


"Ya, udah, ini, pakai," kata suami seraya menyerahkan kartu ATM. 


Ternyata biar kuno, tak mengenal medsos, suamiku ini kenal ATM. 


"Ayo, Bang, antar aku," kataku kemudian. 


Yang pertama kukunjungi adalah salon pria, aku mau suami memotong rambut gobelnya.


*Tunggu Part 3 ya? esok harinya* 😀😃😁🙏🏻🙏🏻


*CERITA BERSAMBUNG*


*🌹PART 3*🌹


*SUAMIKU JADUL*


Motor matic Mio punyaku akhirnya kukeluarkan kami akan pergi jalan-jalan. Kartu ATM beserta pin-nya sudah ada di tangan. Aku ingin merubah penampilan suami yang kuno itu. Yang pertama kami datangi adalah salon pria. 


"Mau ngapain kita di sini, Dek?" tanya suamiku begitu kami sampai di salon. 


"Dipermak dulu Abang," kataku kemudian. 


'Permak bagaimana?"


"Ini, Bang, potong dulu ini, kek orang dari tahun delapan puluhan aja," kataku seraya meremas rambutnya. 


Rambutnya memang model kuno, ya, kuno sekali, rambut seperti itu hanya pernah kulihat di TV, film jadul tahun delapan puluhan. Rambut seperti kuncir kuda, bagian belakang lebih panjang dari bagian depan. 


"Jangan, Dek, rambutku sudah begini sejak dua puluh tahun lalu," kata suami. Dia tak juga mau masuk ke salon pria tersebut.


"Biar rapi, Bang, biar gak kuno gitu," kataku lagi seraya menarik tangannya masuk salon. 


Akhirnya aku berhasil menyeret suami masuk salon, suami langsung duduk di kursi salon. "Rapikan pinggirnya saja," kata suami begitu tukang pangkas memasang baju khusus. 


"Potong pendek, Bang, kek gini," kataku seraya menunjuk foto seorang aktor korea yang ada di dinding. 


"Gak, rapikan pinggirnya saja," kata suami lagi. Bisa ditebak, tukang pangkas tentu saja menuruti perkataan orang yang dia pangkas, bukan perkataanku. Sebel juga. 


Ketika suami dipangkas, aku keluar dari salon tersebut, ada ATM dekat situ. Iseng-iseng aku ingin memeriksa saldonya. Pin-nya sudah ada di tangan. Katanya dia pakai ATM baru tiga bulan, sebelumnya selalu uang tunai. 


Kumasukkan kartu tersebut, ketik pin dan terus ke informasi saldo. Ya, Tuhan, jantungku rasanya mau copot demi melihat angka di ATM, ada banyak digit, aku hanya menghitung digitnya, sembilan digit, dimulai dari angka lima, berarti isinya lima ratus juta lebih, itu berarti setengah milyar. Tanganku seketika bergetar ketika mengambil kembali kartu tersebut.


 Ketika aku keluar dari ATM, ternyata suami sudah selesai pangkas, dia tampak rapi. Kumisnya juga sudah terlihat klimis. 


"Sudah diambil?" tanya suami. 


'Belum, Bang, berapa diambil?" tanyaku kemudian, seraya mencoba menyembunyikan gemetarku. 


"Ambil berapa perlu, Dek," jawab suami. 


"ATM hanya bisa ambil lima juta, Bang," 


"Memang perlu berapa, Dek?"


"Aku perlu dua ratus juta, aku ingin beli mobil, beli motor, beli skincare mahal," gerutuku dalam hati. 


"Ambil seperlunya saja, Dek, belanja sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan, kebutuhan itu ada batasnya, keinginan tidak terbatas," kata suami lagi. 


Ini suami seperti bisa membaca hatiku saja, ah, akan tetapi kata-katanya justru seperti menamparku, betapa selama ini aku selalu belanja sesuai keinginan, niatnya beli sampo malah beli ini beli itu yang tidak diperlukan. 


"Udah, Abang aja yang ambil," kataku akhirnya. 


"Gak pande aku, Dek,"


Suami yang benar-benar kuno, ambil uang di ATM pun dia tak pandai, jadi selama ini uang di ATM untuk apa? 


"Jadi kalau abang ambil uang bagaimana?" tanyaku heran. 


"Ini baru tiga bulan, Dek, belum pernah diambil, Abang masukkan uang ke bank seminggu sebelum kita nikah, repot bawa-bawa uang sekoper, itu penjualan lima puluh sapi, pas hari raya kurban itu, niatnya mau modal nikah, ternyata banyak sisanya," kata suami. 


Ya, Tuhan, tau begitu dulu kubilang maharku satu milyar, menyesal aku bilang dulu hanya tiga puluh juta. Ah, Ayahku pun tak bilang kalau menantunya juragan sapi. Aku masih ingat perkataan ayah dulu, "dia lelaki yang baik, ayahnya teman akrab ayah," seandainya dulu ayah bilang gini misalnya "dia juragan sapi, sapinya banyak," kan lain ceritanya. 


"Kok malah bengong, Dek," kata suami seraya mengacak rambutku. 


Akhirnya aku ambil hanya dua setengah juta, sudah cukup kalau hanya untuk belanja hari ini, aku dapat pelajaran berharga. Belanja sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan. Ah, dasar suami jadul, membuat aku makin cinta saja. 


Aku bawa dia ke restoran Amerika, aku yakin suamiku pasti senang, dia pasti belum pernah makan ayam krispy. Akan tetapi apa yang terjadi, dia tak makan sama sekali, hanya minum saja, kesal juga, akhirnya bagiannya kuhabiskan semua. 


"Kok gak mau makan, Bang?"


"Itu ayam tak sehat yang dipaksa cepat besar dengan obat-obatan," jawab suami. 


"Ah, masa!"


"Iya, Dek, kami tak makan ayam begitu, di desa kami hanya makan ayam kampung."


Ya, Tuhan, aku lupa dia ini peternak, pasti tahu banyak soal ternak. Ke mana lagi suami kubawa untuk membuat dia terkesan? 


Ketika kami berjalan menuju matic jadulku di parkiran, tiba-tiba ada klakson panjang dari motor di belakang kami. Ketika aku mau marah, kaca helm itu terbuka, ternyata si Rapi, teman lamaku. 


"Hei Niyet, masih setia juga kau sama Mio bulukmu itu ya?" katanya seraya tertawa. Kami berteman memang begitu, suka memelesetkan nama, namaku sudah bagus "Nia, malah diplesetkan jadi Niyet. 


" Kau itu, Rapet, masih hidup kau rupanya," jawabku kemudian. 


"Siapa Rambo ini?" tanya Rapi lagi. 


"Ini suamiku," 


"Kau memang teman laknak, nikah gak bilang-bilang, gak undang-undang," katanya lagi. 


Suami menyalami Rapi seraya memperkenalkan diri, dia lalu pergi menuju parkiran motor. 


"Kau dapat di mana itu Rambo, di Zimbabwe ya?" tanya Rapi. 


"Ah, udahlah, aku duluan ya," kataku seraya menyusul suami.


"Ambil uangnya lagi, Dek, beli motor yang gitu," kata suami ketika kami di parkiran, dia tunjuk motor N max, yang ada di di parkiran tersebut. 


'Tapi, kebutuhan cuma tranportasi, Bang,"


"Abang merasa terhina si Rapet itu hina motormu, dia bilang motor buluk," kata suami. 


Hatiku berbunga-bunga, suamiku keren, dia bisa terima bila dirinya dihina, akan tetapi tak terima bila istrinya yang dihina.



🌹TUNGGU EPISODE BERIKUT NYA YA?🌹



*CERITA BERSAMBUNG*

*SUamuku jadul*


🌹Part 4🌹


Keesokan harinya kami ke bank, suami mau mencairkan uang lima puluh juta, katanya mau beli motor baru untukku. Tentu saja aku senang sekali. Motor Mio-ku sudah benar-benar buluk Umurnya sudah lebih sepuluh tahun. Akan tetapi aku heran, kenapa suami tak punya kenderaan? Tak inginkah dia punya motor atau mobil? 


Setelah uangnya kami ambil, langsung kami ke showroom motor. Suami suruh aku milih-milih, sedangkan dia hanya duduk. Sebenarnya aku ingin motor matic besar keluaran terbaru. Jika bertemu si Rapi lagi aku bisa membusungkan dada. Akan tetapi teringat perkataan suami untuk beli yang dibutuhkan saja, bukan yang diinginkan. Akhirnya aku pilih yang standar saja yang harganya dua puluhan juta. 


"Ini depenya tiga jutaan, kreditnya sejutaan perbulan," kata seorang penjaga toko. 


"Kami mau beli kontan," jawab suami. 


Wanita penjaga toko itu justru melihat suami dengan pandangan aneh, mungkin dia tak menyangka suamiku bisa beli tunai. Melihat penampilan suami yang seperti tukang bangunan saja. 


"Ini harganya dua puluhan juta, lo, Pak?" kata wanita itu lagi. 


"Iya, boleh beli kontan kan?" tanya suami. 


"Boleh, boleh," kata wanita itu. 


Aku bingung antara pilih Vario atau scoopy, sementara suami hanya mendampingi, membiarkan aku memilih. Mungkin karena terlalu lama aku memilih, si penjaga toko kesal. 


"Mau beli nggak sih?" katanya ketus. 


Beli Vario atau Scoopy, Bang, aku bingung," tanyaku pada suami. 


"Udah, dari pada bingung, beli aja dua-duanya," jawab suami. 


Penjaga toko itu seperti heran, "beli dua, tunai?" tanyanya seperti tak percaya. 


"Iya, boleh kan?" tanya suami. 


"Bolehlah," 


Aku ingin beli keduanya, akan tetapi lagi-lagi aku teringat perkataan suami, beli yang dibutuhkan saja. Akhirnya aku pilih vario. Si wanita penjaga melihat kami dengan mata melotot ketika suami bayar motor tersebut dengan tunai. Ketika kami mau pulang, kulihat wanita itu berbicara dengan suami, entah apa yang dia bicarakan aku tak tahu. 


Kami pulang, motor baru akan mereka antar ke rumah. 


"Itu cewek tadi bilang apa sama Abang?" tanyaku penasaran. 


"Dia minta nomor WA, aku bilang gak ada, dia gak percaya," jawab suami. 


Wah, bibit pelakor itu. Ternyata betul juga kata orang, pelakor ada di mana-mana, berani sekali dia minta nomor WA suamiku di depan mataku pula. 


Ayah akhirnya jadi berangkat ke tanah suci, tiket dan segalanya sudah diurus, sebelum berangkat beliau minta kami semua berkumpul di rumah orang tua. Acara makan bersama melepas Ayah pergi umroh. 


"Motor baru kau, Nia?" kata kakak ipar begitu kami sampai, belum sempat juga kami turun dari motor. 


"Iya, Kak," jawabku singkat. 


"Ambil kredit berapa tahun?" tanyanya lagi.


"Beli kes, Kak," jawabku jujur. 


"Waw, hebat kau ya," kata Kakak ipar. 


Aku hanya tersenyum, kami tinggalkan dia yang terus memperhatikan motor Vario baruku. 


Ketika kami masuk rumah, para saudaraku lagi berunding tentang komsumsi. "Hei, Nia, sini dulu kau," panggil abangku yang tertua. 


"Begini Nia, entah kenapa akhir-akhir ini Ayah kita banyak permintaan, tadi dia minta sop kepala kambing, serta kari kambing untuk kita makan semua. Dari mana uangnya, dah berapa itu." terang abangku yang nomor dua. 


"Memang berapaan?" tanyaku kemudian. 


"Kita semua dua belas orang, tambah Ayah dan anak-anak, semua dua puluh satu orang, berarti butuh dua puluh satu porsi, dikali dua puluh lima ribu udah lima ratus lebih lebih, sup kepala kambing lagi," kata abangku yang nomor dua. 


"Entah kenapa Ayah begitu, makin tua makin seperti anak-anak saja," sambung kakak ipar. 


Kulihat suami, dia mengangguk seperti paham yang yang ingin kukatakan, dia lalu mengeluarkan dompetnya, memberikan uang merah sepuluh lembar. 


"Ini, ayo kita makan-makan," kata suami seraya meletakkan uang tersebut di atas meja. 


Semua saudaraku terdiam. Mereka saling pandang. Kemudian disepakati adik laki-lakiku dan suamiku yang pergi beli makanannya. 


Sepeninggal mereka, aku diinterogasi para saudara dan iparku. 


"Nia, jika dilihat tampang suamimu itu dari dulu aku sudah curiga padanya," kata Kakak ipar. 


"Curiga bagaimana?" tanyaku. 


"Lihat saja wajahnya, dingin, jarang bicara, jarang senyum," sambung abangku yang tertua. 


"Terus?" 


"Jujur sajalah, Nia, dia itu mencurigakan, kalau bukan kelompok begal, dia pasti pelihara tuyul atau babi ngepet," kata Kakak ipar. 


"Hahaha, hahaha," tawaku justru pecah. 


"Ketawa pula kau, Nia, ini serius, lihat ini, artikel ini," kata kakak ipar seraya menunjukkan HP-nya. 


Aku justru makin tertawa, tak tertarik melihat artikel yang dia tunjukkan. 


"Orang kampung itu banyak yang seperti itu, Nia, apalagi dari Mandailing sana, gak kerja tapi banyak duit, dari mana duitnya coba, lihat itu mudah kali dia berikan satu juta, pasti kan karena mudah datangnya," sambung Abang tertua. 


"Gak lah, souzon kalian," kataku masih berusaha menahan tawa. 


"Kerjamu jaga lilin kan tiap malam?" kata kakak ipar lagi. 


"Hahaha, hahaha," entah kenapa aku merasa lucu, kutinggalkan mereka dan menemui Ayah di kamarnya. 


"Ayah!" 


"Eh, kau Nia, Ayah lagi teringat ibumu, Nak," kata Ayah seraya memandang foto almarhumah Ibu. 


"Ibu sudah tenang di sana, Yah," kataku kemudian. 


"Iya, Nak, Ayah bentar lagi juga nyusul ibumu," 


Semenjak Ibu meninggal dua tahun lalu, Ayah memang banyak berubah, banyak permintaan, suka panggil kami semua untuk berkumpul. 


"Di mana Ayah kenal Bang Parlin?" tanyaku seraya duduk di dekat Ayah. 


"Dia anak temanku Pardomuan, teman masa muda Ayah, dia berhasil mendidik anak-anaknya."


"Ayah tahu sapinya banyak?"


"Tidak tau, yang Ayah tahu sawitnya luas, tapi bukan karena itu kau kujodohkan dengannya, tapi karena keserhanaannya, di jaman sekarang sulit cari orang seperti dia." 


Wah, ternyata selain punya sapi yang banyak, kebun sawit lagi luas, mungkin itu maksud suami, sapi itu sampingan, usaha utama adalah kebun sawit. Wah, aku istri juragan sawit?


🌹Tunggu Episode berikutnya ya?🌹



*CERBUNG* 


🌹SUAMIKU JADUL🌹


*EPISODE 5*


Ketika mengantar Ayah ke bandara, ayah memeluk kami satu persatu, beliau menangis seperti mau pisah selamanya saja, padahal hanya mau umroh. 


"Tugas Ayah selesai, kalian semua sudah berumah tangga, yang rukun ya, Anak-anakku jangan saling iri," kata Ayah. 


Memang ketika aku belum menikah Ayah seperti merasa masih ada beban, setiap jumpa selalu ditanya kapan nikah. Aku memang terlambat nikah, bukan karena gak laku, tapi memang gak ada yang mau, entah kenapa setiap aku menjalin hubungan dengan seseorang itu selalu kandas sebelum ke pelaminan sampai akhirnya aku lelah sendiri, pasrah menunggu nasib. Siapa sangka di usia tiga puluh dua tahun bertemu jodoh usia tiga puluh enam tahun, tajir pula. 


Setelah Ayah berangkat kami semua kembali ke rumah masing-masing, tinggal adikku yang paling bungsu tinggal di rumah orang tua. Kami enam bersaudara, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Anak pertama laki-laki, baru yang kedua perempuan, baru aku, dan tiga adikku dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka semua sudah punya anak, tinggal aku yang belum. 


"Bang, aku pengen pulang ke kampung Abang," kataku di suatu sore. Saat itu suami sedang membuat bangku dari kayu. Memang begitu suamiku ini, ada saja yang dia kerjakan. Buat kandang ayam, buat kursi, buat meja, bahkan dia buat lemari untuk kami. 


"Gak ada enaknya di kampung, Dek, Adek gak akan tahan, rumah terdekat jauhnya seratus meter, lembu banyak berkeliaran, bukan lembu yang dikandangkan lagi, tapi rumah yang dikandang, sementara lembu berkeliaran bebas." kata suami. 


Aku justru makin penasaran dengan kampungnya, seperti apa kira-kira peternakan lembu dua ratus ekor? 


"Abang punya kebun sawit ya?" tanyaku lagi. 


"Sedikit, Dek."


"Ayah bilang luas?"


"Gini, Dek, Abang berikan gambaran tentang kampung Abang ya. Ada kebun sawit sepuluh hektar, sekeliling kebun ini dikandang, baru dilepas lembu di bawah sawit itu, di dalam kebun, ada rumah karyawan enam, sama rumah kita jadi tujuh, bisa bayangkan, Dek, seluas sepuluh hektar hanya ada tujuh keluarga. Jarak dari jalan besar ke kebun kita ada empat puluh kilometer, jalan belum bagus, kalau adek ke sana belum sampai udah pingsan duluan, hahaha," kata suami. 


Baru kali ini suami tertawa lepas begitu, dia orang yang jarang tertawa betul kata kakakku bagi orang yang belum kenal dia orang akan mengira suamiku yang aneh-aneh. 


"Aku tetap pengen, Bang," kataku lagi. 


"Ya, udah, nanti kita ke sana, sekarang kita masih bulan madu," kata suami seraya melirikku nakal. 


"Dah tiga bulan, masih bulan madu?" kataku sambil mencubit pinggangnya pelan. 


"Iya, Dek, sebenarnya Abang ingin selamanya bulan madu, sudah lelah Abang yang kerja itu dua puluh tahun sudah, Abang ingin menikmati hidup dulu, ingin melihat dunia yang luas ini," kata suami. 


"Emang bisa, Bang, selamanya bulan madu, gak diurus rupanya kebun dan sapi itu?" 


"Orang yang urus, Dek, kita hanya terima hasil setahun sekali, panen lembu hanya Idul adha saja."


"Sawit?"


"Oh, itu Ayah yang urus, biar sudah tua Ayah masih sanggup urus."


"Bagaimana penghasilan sapi ini, Bang?" entah kenapa aku ingin tahu banyak. 


"Begini, Dek, sapinya dibesarkan di lahan kita, pekerja dapat setengah, kita setengah, satu keluarga paling bisa urus sapi empat puluh, maksimal itu, bila sapinya beranak, bagi dua." 


"Penghasilannya berapa setahun?"


"Tergantung, Dek, satu sapi betina beranak satu kali dalam satu tahun, kita memakai dua sistem, penggemukan dan pembibitan. Bila penggemukan, sapi bakalan dibeli dan dibesarkan di lahan sawit itu, setelah satu tahun baru dijual, keuntungan dari satu sapi penggemukan kira-kira sepuluh juta satu tahun, tergantung sapinya, bagi dua sama pekerja, jadi kita dapat lima juta, selama ini Abang yang kerjakan sendiri, sekarang abang sudah lelah, ingin menikmati hidup, capek kawinkan sapi terus, diri sendiri tidak kawin."


Aku mulai menghitung keuntungan, satu sapi lima juta, kali dua ratus sapi, dua ratus juta setahun, bagi dua belas bulan kira-kira lima belas juta sebulan. Itu baru dari penggemukan, ada lagi katanya pembibitan Wah, hebat suamiku, dia bergaji lima belas juta hanya duduk ongkang kaki di rumah.


"Kenapa Abang lama kawin?" tanyaku lagi. 


Aneh memang kami bila dipikir-pikir, setelah tiga bulan menikah baru mulai ada komunikasi, mungkin ini yang dikatakan orang pacaran setelah menikah, saling mengenal pribadi pasangan setelah menikah. 


"Gak ada yang mau, Dek, gak ada cewek yang mau sama tukang sapi, keahlianku hanya mengawinkan sapi, hingga lupa diri sendiri, udahlah, Dek, gak usah bahas itu, pokoknya kita bahagia, gak perlu kerja."


Pembicaraan kami terhenti karena ada tamu datang, ternyata si Rapi yang datang. 


"Gimana sih kau, Niyet, ditelepon gak diangkat, di-Wa gak dibaca, kirain kau sudah pindah ke kutub utara?" kata Rapi begitu dia buka helm. 


Aku baru ingat, HP-ku kuletak di kamar, entah kenapa aku jadi terikut suami tak pegang HP. 


"Emang ngapain kau cari aku, Rapet?"


"Ini nih, ngantar undangan, aku gak kayak kau, kawin gak undang teman," kata Rapi seraya memberikan undangan. 


"Wah, laku juganya kau, ya, Rapet,"


"Ya, iyalah, datang kau ya, sekalian kita reuni, ajak si Rambo ini," kata Rapi sebelum dia akhirnya pergi. 


Wah, reuni? Apa nanti kata teman satu gengku bila melihat suamiku yang jadul ini?


Rumah tanggaku jadi aneh, setidaknya begitu kata orang, kami lakukan semuanya bersama, belanja bersama, makan bersama-sama, bahkan mandi dan nyuci pun kami selalu bersama. Bersama suami aku mulai bisa mengurangi ketergantungan gatget, jadulnya seperti menular padaku. Kegiatan suami hanya mengurus ayam jago tiga ekor. 


"Pagi, Mas, gak pergi kerja?" kudengar tetangga sebelah menyapa suamiku. Saat itu aku lagi nonton TV, sedangkan suami di luar menyapu halaman. 


"Pagi juga, Mbak," jawab suami. 


"Gak kerja, Mas?" tanyanya lagi. 


"Ini lagi kerja," jawab suami. 


"Eh, Mbak Nia, maaf ya, bukannya mau kepo, tapi cuma heran memang suaminya gak kerja?" tanyanya lagi, ketika aku keluar. Eh, ini tetangga katanya gak kepo, tapi kepo juga. 


Aku tak tahu harus jawab apa, mungkin mereka sudah heran, suamiku selalu di rumah tiap hari. Gak pernah pergi ke mana-mana, kalau pergi kami selalu berdua.


"Lagi nganggur," jawabku akhirnya. 


"Oh, kasihan sekali ya, nanti kutanya suami mana tau ada lowongan," kata tetangga ini.


Tetangga mulai banyak bertanya, penampilan suami yang seperti tukang kebun ditambah lagi rambut gobelnya membuat para tetangga menggunjing. Sering sampai terdengar telinga Ini mereka membicarakan suamiku. 


"Bang, kita tak bisa begini terus berhentilah pura-pura miskin," kataku pada suami. 


"Abang gak pernah pura-pura, Dek, memang begini adanya. Orang saja yang menganggap miskin."


"Kita pergi aja tiap hari, Bang, biar dikira tetangga pergi kerja,"


"Itu baru pura-pura, Dek," 


Ah, susah memang ngomong sama suamiku ini, dia bisa saja tenang jadi pembicaraan orang, dia tak peduli orang berkata apa. Pernah tetangga nyindir suami. 


"Jadi laki gak tanggung jawab, kerjanya cuma ngurus ayam," 


Suamiku hanya membalasnya dengan senyuman. Ingin rasanya kubungkam mulut tetangga ini, tapi suami selalu melarang. 


"Biar saja dianggap orang miskin, Dek, daripada dianggap kaya," begitu selalu kata suami. 


Padahal di luaran sana banyak orang berlomba-lomba supaya dianggap kaya, nyicil mobil, nyicil motor, HP canggih.


Suatu hari aku panas melihat pesan kakak ipar di grup WA keluarga. Dia tulis begini;


(Hasil dari jaga lilin tak akan berkah, lihat saja rumah saja ngontrak, dikasih rumah kredit gak mau) 


Aku tahu pesan itu ditujukan untukku. 


(Bukan jaga lilin, tapi miara bocil, botak cilik) 


Sambung istri dari adikku. 


Aku makin panas, aku berteriak memanggil suami. 


"Banggg ...!" 


"Apa sih, Dek?"

"Aku lelah selalu dihina, saudara sendiri pun menghina, aku mau tunjukkan pada mereka suamiku punya rumah, rumah itu hanya sepuluh sapi," kataku pada suami. 


"Duh, ada apa, sih, Dek, yang hina siapa, kapan, perasaan kita gak ke mana-mana hari ini,"


"Di WAG keluarga, Bang," kataku. 


"WAG itu apa?" 


Duh, aku lupa suamiku berasal dari tahun delapan puluhan. 


Ini, Bang, ini," kataku seraya menunjukkan HP-ku. 


"Wah, menggosip pun bisa lewat HP ya," kata suami. 


"Suami gak peka, gak ngerti perasaan istri," kataku seraya membalikkan badan. 


"Aku juga manusia, Bang, sedikit pamer itu sudah kodrat manusia, ini tahun dua ribuan, bukan delapan puluhan," omelku lagi. 


Saudara yang menghinaku, suami yang kumarahi. 


"Udah, Dek, kita beli rumah dan mobil, telepon Bank, kita cairkan uang kita, bila kurang kita jual sapi," kata suami. 


Ternyata ini kelemahan suami, dia tak terima bila istrinya yang dihina. Ah, aku makin cinta pada lelaki jadul ini.😂🤣


*Tunggu lagi episode berikut nya ya? Pd esok hari,Slmt beraktifitas* 🙏🏻


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Link Murottal Al-Qur'an 30 juz

arti kode error internet banking bjb

Perangkat Ajar