PETAKA MENIKAHI DUDA
PETAKA MENIKAHI DUDA
Tak mau dicap perawan tua, aku nekat menikah dengan duda. Jangan ditanya pengalamannya, tentu sudah piawai.
Semua terkuak setelah aku diboyong ke rumahnya, ternyata dia ….
PETAKA MENIKAHI DUDA
Bab 4
“Maksud, Mas? Maksud Mas apa?” Gemetar aku melontarkan pertanyaan ke Mas Beni, sungguh aku tidak menyangka ia akan marah.
Sepertinya Mas Beni baru menyadari kalau ia telah membentakku. Buru-buru ia menarik tangannya dan pergi meninggalkanku begitu saja, tanpa ada niat untuk meminta maaf.
Mas Beni kenapa? Aneh, kenapa sikapnya mudah sekali berubah? Ia pergi lagi tanpa berpamitan denganku. Kamu kenapa, Mas? Ah, sudahlah, mungkin Mas Beni sedang capek jadi emosinya sedikit labil.
Setelah Mas Beni pergi, aku memutuskan untuk membersihkan rumah. Sepertinya rumah ini sudah agak lama tidak dihuni, terlihat dengan banyaknya jaring laba-laba di plafon juga pojok-pojok dinding.
Pertama yang akan aku bersihkan adalah dapur. Sebelum sampai ke dapur, aku melewati sebuah kamar dengan pintu besar terbuat dari kayu jati. Aku penasaran dengan ruangan ini, kenapa pintunya berbeda dengan pintu kamar lain? Apa aku masuk saja agar rasa penasaran ini menemui jawab? Baiklah, aku akan masuk sambil membersihkan ruang di dalamnya.
Pintu terasa berat saat aku berusaha membukanya. Begitu pintu terbuka, tiba-tiba angin berhembus dengan begitu kencang, tercium aroma debu bercampur bau anyir. Aneh, apa ini? Aku semakin penasaran, kulangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.
Ruangan ini tidak terlalu besar, di dalamnya hanya ada sebuah tempat tidur yang diletakkan tepat di tengah ruangan. Tempat tidur itu dikelilingi kelambu berwarna putih. Saat aku menyibak kelambu, kulihat sebuah peti berwarna keemasan di atas tempat tidur. Apa lagi ini? Kenapa rumah ini penuh dengan misteri?
Aku duduk dan mengambil peti itu. Bingung. Apa aku keluar dari ruangan ini saja ya? Tapi aku sungguh penasaran dengan isi peti ini.
Setelah melewati pergolakan hati yang sulit, meski dengan ragu akhirnya aku memutuskan untuk membukanya.
“Bismillah.”
Perlahan kubuka peti berwarna keemasan itu. Ternyata di dalamnya ada sebuah buku. Betapa kagetnya aku saat membuka buku itu, di dalamnya terdapat nama-nama almarhum istri Mas Beni lengkap dengan tanggal pernikahan dan tanggal meninggal.
Dinda Kanya, menikah 4 Januari 2019, meninggal 11 Januari 2019
Karunia Putri, menikah 20 Juli 2019, meninggal 27 Juli 2019
Kanaya Dewi, menikah 14 Maret 2020, meninggal 21 Maret 2020
Erika Sari, menikah 22 Desember 2020, meninggal 29 Desember 2019
Sinta Wati, menikah 6 Agustus 2022, meninggal 13 Agustus 2022
Andini Cantika, menikah 1 Januari 2023, meninggal 8 Januari 2023
Anita Purnama, menikah 23 Januari 2024, meninggal ……...
Bahkan di bagian akhir, tertulis namaku. Tetiba jantungku berdetak dengan begitu kencang. Apa maksudnya ini? Apakah ini yang membuat Bude Darsih memintaku pergi meninggalkan Mas Beni?
Kuperhatikan lagi nama-nama yang tertulis di buku itu, juga tanggal pernikahan dan tanggal meninggal. Tunggu, ada sesuatu yang aneh, jika dilihat tanggal meninggal dan tanggal menikah, maka semua istri Mas Beni meninggal di hari ketujuh setelah menikah.
Keringat dingin mulai membasahi bajuku. Tanganku gemetar. Aku sungguh ketakutan, apa itu artinya aku juga akan meninggal di hari ketujuh pernikahanku bersama Mas Beni. Tanggal 1 Februari 2024. Apa aku akan meninggal di hari itu? Ya Allah, kumohon, jangan cabut nyawaku.
Saat aku dilanda ketakutan yang luar biasa, tiba-tiba terdengar suara isak tangis lagi. Ku pertajam pendengaranku, benar saja, terdengar suara perempuan menangis. Aku kembali teringat dengan hantu pengantin wanita yang tempo hari menemuiku. Jangan, jangan datang lagi. Sebaiknya aku keluar dari ruangan ini. Cepat kulangkahkan kaki, tak mau berlama-lama di ruangan ini. Saat aku menutup pintu dan melangkah hendak menuju dapur. Ada sepasang tangan yang menepuk bahu kananku.
Jantungku serasa berhenti berdetak, jangan-jangan hantu itu datang lagi. Tiba-tiba kakiku begitu berat untuk melangkah, aku tak mampu bergerak, ingin meminta tolong pun tak bisa, suaraku tercekat di tenggorokan. Kurasakan tangan itu mulai mencengkeram bahuku, aku tak boleh diam, aku harus melawan.
“Bismillah.”
Sekuat tenaga aku berusaha membalikkan badan. Ketika berhasil membalikkan badan, mataku membulat sempurna mengetahui siapa pemilik tangan itu. Ternyata ….
******
Kisah selengkapnya ada di KBM app.
Judul: TUJUH (Petaka Menikahi Duda)
Penulis: Yulia_Cahya
Klik tautan di bawah ini:
https://read.kbm.id/book/detail/05cc9061-6412-46de-98ff-ce3479c13bc3?af=f110644c-da6b-e642-8c5e-759db145ddfc
Mohon tinggalkan jejak like, share dan komen. Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar