menolak bantuan beras 20 kg

menolak bantuan beras 20 kg Saya baca konten yang lewat di instagram ini jadi terharu. Seorang warga di Magelang, menolak bantuan beras 20 kg. Menolak, kata yang mungkin susah dipahami orang-orang, ketika warga yang menolak itu, “hanya” memiliki rumah seperti yang ada di gambar. Beberapa orang mungkin berpendapat, “Kenapa tidak dijual saja, nanti uangnya dibelikan kebutuhan lain?” Atau bahkan mungkin, bagi orang yang punya sudut pandang atau POV yang di luar nurul, akan berkata, “Sudah miskin, banyak gaya!” Tapi, mendengar jawaban dari warga itu, kita pasti akan memetik pelajaran yang sangat berharga. Karena beliau berkata seperti ini, “Beras kulo tasih kathah. Kulo niki angsal bantuan beras 20 kg, mboten kulo pendet mergone sok mboten telas. Sing riyen nggih tasih wonten.” Tidak tahu artinya? Baik saya translate. “Beras saya masih banyak. Saya ini dapat bantuan beras 20 kg, tidak saya ambil karena sering tidak habis. Yang dulu juga masih ada.” Lihat, dari cara menjawab, tampak beliau mungkin tidak punya pendidikan tinggi yang mentereng. Tapi, jawaban itu menegaskan betapa isi hati pemiliknya luar biasa. Menandakan beliau lebih baik dari sebagian besar kita, termasuk saya. Hati yang bersih, yang selalu merasa cukup dan tidak pernah merasa kurang. Punya kesempatan dan hak untuk mendapatkan sesuatu pun, tidak dimanfaatkan karena beliau tahu satu kata yang sering manusia luput: cukup. Relate dengan ending pada konten video yang saya upload beberapa hari lalu, “Kalau satu piring saja bisa membuat kita kenyang, kenapa harus serakah mengambil piring mereka yang lebih membutuhkan?” Mungkin alasan beliau tidak mengambil beras itu—dan ini yang saya yakini—adalah beliau yakin ada yang lebih membutuhkan beras itu daripada beliau. Sebuah tamparan telak bagi kita semua, terutama bagi mereka yang mendapat tunjangan beras 12 juta tapi selalu saja merasa kurang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Link Murottal Al-Qur'an 30 juz

arti kode error internet banking bjb

Perangkat Ajar