REMAJA INI MENOLAK DUNIA DEMI AYAH
REMAJA INI MENOLAK DUNIA DEMI AYAH
Di sebuah desa kecil di pelosok Gunung Kidul, Yogyakarta, berdiri sebuah rumah kayu tua di lereng bukit. Atapnya bocor, dindingnya lapuk, dan lantainya hanya disemen kasar. Rumah itu nyaris tak terlihat dari jalan utama karena ditelan semak dan pepohonan liar yang tumbuh tanpa arah.
Warga desa menyebutnya “rumah sunyi.” Bukan karena tak berpenghuni, tapi karena penghuninya jarang terlihat, dan tak pernah terdengar suara tawa, musik, apalagi televisi dari dalam rumah itu.
Di dalamnya tinggal seorang gadis remaja bernama Najwa, 17 tahun, bersama ayahnya yang lumpuh total sejak lima tahun lalu. Sang ibu sudah lama tiada, meninggal saat Najwa baru berumur 11 tahun karena komplikasi saat melahirkan adiknya yang juga meninggal dunia. Sejak itu, Najwa hanya punya satu dunia: ayahnya.
Sejak subuh, Najwa sudah bangun. Ia menyalakan tungku kayu di dapur belakang, merebus air untuk memandikan ayahnya yang tak bisa bergerak sama sekali. Ia bersihkan tubuh ayahnya dengan hati-hati, mengusap luka-luka di punggung akibat terlalu lama berbaring.
“Ayah, Najwa siapin bubur, ya…” ucapnya pelan, sambil tersenyum meski matanya sembab karena begadang semalaman menjaga ayahnya yang mengigau terus.
Setiap hari, ia akan berjalan kaki sejauh 3 kilometer ke sekolah menengah atas di kota kecamatan. Sepulang sekolah, Najwa tak pernah main, tak pernah nongkrong di warung kopi seperti teman-temannya. Ia langsung pulang, menyiapkan makan malam, dan mengganti popok ayahnya.
“Najwa nggak capek, Yah. Najwa cuma pengen Ayah sehat lagi,” ucapnya suatu malam, sambil mengelap air mata di pipi ayahnya yang tak mampu bicara, hanya menatap dengan mata berkaca-kaca.
Beberapa kali, perangkat desa datang dan menyarankan Najwa untuk menitipkan ayahnya ke panti jompo agar bisa fokus sekolah. Tapi Najwa menolak.
“Maaf, Pak. Saya nggak tega. Ayah bukan barang titipan,” katanya tegas, tapi sopan.
Setiap malam, saat angin gunung berhembus kencang dan suara binatang malam bersahutan, Najwa duduk di samping ayahnya sambil membaca Al-Qur'an dengan suara pelan.
“Yaa Allah… jika Engkau belum beri kesembuhan untuk Ayahku, setidaknya beri aku kekuatan untuk terus merawatnya dengan ikhlas…”
Ia jarang menangis, tapi bukan karena tidak lelah. Ia hanya terlalu sibuk mencintai dalam diam.
Najwa hidup dengan bantuan dari tetangga yang iba, serta hasil dari menjual kerajinan tangan yang ia buat sendiri—tas dari anyaman plastik dan gantungan kunci dari kayu bekas. Ia menjualnya ke pasar setiap akhir pekan. Hasilnya tak seberapa. Tapi cukup untuk membeli beras, minyak, dan satu-dua popok dewasa.
Pernah suatu hari, ayahnya demam tinggi. Najwa menggendongnya sendiri ke puskesmas, karena tak ada kendaraan. Ia berjalan sejauh 2 km sambil menahan tangis.
“Ini bukan beban. Ini kehormatan,” jawabnya pada perawat yang bertanya kenapa tak minta bantuan.
Sampai suatu ketika, seorang guru di sekolahnya yang juga relawan sosial mengunjungi rumah Najwa. Ia terkejut melihat kondisi rumah dan kehidupan Najwa yang jauh dari layak.
Tanpa sepengetahuan Najwa, sang guru membagikan kisahnya di media sosial. Dalam hitungan hari, kisah Najwa viral. Banyak yang terharu. Banyak pula yang merasa malu—karena selama ini hidup dalam kelimpahan tapi lupa membalas cinta orang tua.
Donasi mengalir. Bantuan datang dari berbagai daerah. Rumah itu perlahan diperbaiki. Kasur baru diberikan. Ada listrik, air bersih, bahkan ranjang khusus untuk sang ayah.
Namun Najwa tetap sederhana. Ia menolak tawaran pindah ke kota atau tinggal di panti asuhan berfasilitas lengkap.
“Saya cuma butuh satu tempat: dekat dengan Ayah. Karena dari beliaulah saya belajar apa itu sabar, apa itu cinta.”
Kini, rumah itu tak lagi sunyi. Tapi hati Najwa tetap tak berubah. Ia tetap bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan untuk ayahnya, dan tak pernah lupa untuk membaca Al-Qur’an sebelum tidur.
🌿 Hikmah Islami dari Kisah Ini:
Dalam Islam, berbakti kepada orang tua bukan hanya kewajiban, tapi jalan menuju surga. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."
(HR. Tirmidzi)
Najwa adalah cermin dari sabda itu—seorang anak yang tidak hanya merawat dengan tangan, tapi juga dengan hati dan iman.
Ia membuktikan bahwa cinta sejati bukan tentang kata-kata manis, tapi tentang kesetiaan dalam sepi, pengorbanan dalam diam, dan doa yang tak pernah putus bahkan ketika dunia berpaling.
🤲 Semoga kisah ini menjadi pengingat untuk kita semua:
Jika orang tuamu masih hidup—temuilah, peluklah, doakanlah.
Jika mereka telah tiada—jangan pernah lupa menyebut nama mereka dalam setiap sujudmu.
Karena tak ada jalan tercepat menuju ridha Allah… selain dari orang tua.
💬 Bagaimana menurutmu kisah Najwa ini?
Apakah kamu punya kisah serupa atau ingin berbagi cerita tentang orang tuamu?
Tulis di kolom komentar, ya! 📝
Karena setiap kisahmu… bisa menginspirasi orang lain juga. ❤️
Jika kamu merasa kisah ini menyentuh hatimu, bantu sebarkan agar lebih banyak yang bisa belajar dari cinta dalam kesunyian ini.
#muslimmalaysia #muslimsingapore #brunei #mosquesg
Komentar
Posting Komentar